DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR………..……………………………………………………………….2
BAB I PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Masalah ……………………………………………...……3
1.2.
Tujuan
Penulisan……………..………………………………………..…… 4
BAB II KAJIAN TEORI
2.1.
Pengertian Sumber
Belajar ……………………………...………………...5
2.2.
Pemilihan Sumber
Belajar………………………………………………….7
2.3.
Persyaratan Dalam
Memanfaatkan Sumber Belajar..……………….…..9
2.4.
Pengertian Media
Instruksional Edukatif……………………………...…..9
BAB III. PEMBAHASAN
3.1. Analisis Kebutuhan
Media Intruksional …………………………..………..…12
3.2. Peranan Media
Intruksional dalam Pencapaian Tujuan Pembelajara.…….16
BAB IV KESIMPULAN
……………………………………………………….………..…20
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………..…………..…21
KATA
PENGANTAR
Segala
Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah Tuhan semesta alam. Atas berkat
pertolonganNya, penulis dapat menyelesaikan tugas makalah ini sesuai dengan
waktu yang ditetapkan.
Perkembangan
pendidikan di tanah air akhir-akhir ini sangat pesat, terlebih sekarang ini di era
teknologi modern. Sehingga kemampuan untuk memanfaatkan teknologi modern dalam
upaya pengembangan pendidikan, tentu saja sangat tergantung pada jumlah dan
kemampuan para ahli dalam bidang teknologi pendidikan.
Penggunaan
Sumber belajar dalam kegiatan pembelajaran sangatlah penting. Guru memang
bukanlah satu – satunya sumber belajar, walaupun tugas, peranan dan fungsinya
dalam proses belajar mengajar sangat penting. Mengingat hal tersebut diatas
maka kami kelompok V merasa sangatlah penting membahas Sumber Belajar dalam konteks Media
Intruksional Edukatif, dengan keterbatasan dan kemampuan yang dimiliki penulis
dalam pembuatan makalah ini.
Ucapan
terima kasih penulis sampaikan kepada bapak DR. Samsudin, sebagai dosen
pengampu pada mata kuliah Pengembangan Sumber Belajar, atas dedikasi dan
keikhlasannya dalam menyampaikan ilmunya kepada kami, serta memberikan
masukan-masukan kepada kami dalam penyempurnaan pembuatan makalah ini. Tak lupa
juga kami ucapkan terima kasih kepada rekan-rekan mahasiswa S2 Magister
Teknologi Pendidikan Universitas Islam Assyafi’iyyah Jakarta, yang telah
bersama-sama belajar dan banyak membantu memberikan masukan kepada penulis.
Akhirnya
penulis sadar bahwa makalah ini tidaklah sempurna. Untuk itu saran dan kritik membangun kami nantikan demi
perbaikan di masa yang akan datang.
Wassalam
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar
Belakang
Masalah
Sumber belajar merupakan salah satu
komponen penting dalam proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran,
seseorang dapat memanfaatkan sumber belajar. Hal ini sejalan dengan pengertian
sumber belajar menurut Edgar Dale dalam Sudjana dkk (2005), yaitu segala
sesuatu yang dapat dimanfaatkan untuk memfasilitasi belajar seseorang.
Sumber belajar sangat penting dalam
menentukan keberhasilan proses pembelajaran. Oleh karena itu, pemahaman tentang
sumber belajar sangat diperlukan. Sebaliknya, minimnya pemahaman kita tentang
sumber belajar tidak menutup kemungkinan proses pembelajarn kurang berhasil.
Fakta di lapangan yang ada saat ini
tidak sedikit guru yang kurang memahami sumber belajar secara luas dan
mendalam. Sumber belajar yang dimanfaatkan hanya sebatas bahan-bahan cetakan
saja terutama buku. Tidak jarang pula
guru yang hanya mengandalkan pengetahuan siap yang ada pada dirinya tanpa
berpikir apakah pengetahuan tersebut up to date atau tidak.
Akibat dari kebiasaan tersebut tidak
sedikit siswa yang cenderung verbalisme, tahu nama tetapi tidak tahu benda atau
hal apa yang dimaksud. Akibat yang lain, proses pembelajaran kurang interaktif
karena guru hanya berperan menyampaikan ilmu yang ada. Disamping itu,
pengalaman secara langsung pada diri siswa kurang tergali, disebabkan siswa
hanya belajar didalam dikelas, pada akhirnya tujuan pembelajaran tidak
tercapai.
Jika dikaitkan dengan sistem
pembelajaran, sumber belajar saling mempengaruhi dengan komponen yang lain,
seperti tujuan, metode, media, dan evaluasi. Khusus untuk komponen media,
fungsi media dalam proses pembelajaran tidak hanya sekedar alat bantu guru,
melainkan sebagai pembawa informasi atau pesan pembelajaran yang sesuai dengan
kebutuhan siswa. Penggunaan media pembelajaran merupakan usaha untuk menunjang
pencapaian tujuan pembelajaran.
Berdasarkan latar belakang di atas,
kami menyusun makalah dengan judul “Sumber Belajar dalam Konteks Media
Instruksional Edukatif”.
1.2 Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah
sebagai berikut.
a. Menganalisis kebutuhan media instruksional,
b. Menganalisis media instruksional dalam mencapai tujuan
pembelajaran
KAJIAN TEORI
2.1.
Pengertian Sumber Belajar
Sumber belajar (learning resources)
adalah semua sumber baik berupa data, orang dan wujud tertentu yang dapat
digunakan oleh peserta didik dalam belajar, baik secara terpisah maupun secara
terkombinasi sehingga mempermudah peserta didik dalam mencapai tujuan belajar
atau mencapai kompetensi tertentu (Sudrajat, 2008).
Guru merupakan sumber belajar yang
utama, yaitu dengan segala kemampuan, wawasan keilmuan, keterampilan dan
pengetahuan yang luas, maka segala informasi pembelajaran dapat diperoleh dari
guru tersebut. Siswa memiliki sejumlah variasi aktivitas belajar, pengalaman
belajar, pengetahuan dan keterampilan, maka dalam konteks tertentu apa yang
terdapat pada diri siswa dapat dijadikan sebagai sumber belajar dalam
mempelajari suatu pengalaman-pengalaman belajar yang baru.
Secara garis besarnya, terdapat dua jenis
sumber belajar yaitu: Sumber belajar yang dirancang
(learning resources by design) dan Sumber belajar yang dimanfaatkan (learning
resources by utilization). Sumber belajar
yang dirancang (learning resources by design) yakni sumber belajar yang
secara khusus dirancang atau dikembangkan sebagai komponen sistem instruksional
untuk memberikan fasilitas belajar yang terarah dan bersifat formal. Sumber
belajar yang dimanfaatkan (learning resources by utilization), yaitu
sumber belajar yang tidak didesain khusus untuk keperluan pembelajaran dan
keberadaannya dapat ditemukan, diterapkan dan dimanfaatkan untuk keperluan
pembelajaran (Depdiknas, 2004).
Dari
kedua macam sumber belajar, sumber-sumber belajar dapat berbentuk :
1. pesan, informasi, bahan ajar; cerita rakyat,
dongeng, hikayat, dan sebagainya
2. orang, guru, instruktur, siswa, ahli, nara
sumber, tokoh masyarakat, pimpinan lembaga,
3. bahan,buku,
transparansi, film, slides, gambar, grafik yang dirancang untuk pembelajaran,
relief, candi, arca, komik, dan
sebagainya;
4. alat /
perlengkapan, perangkat keras, komputer, radio, televisi, VCD/DVD, kamera,
papan tulis, generator, mesin, mobil, motor, alat listrik, obeng dan
sebagainya;
5. pendekatan /
metode / teknik, disikusi, seminar, pemecahan masalah, simulasi, permainan,
sarasehan, percakapan biasa, diskusi, debat, talk shaw dan sejenisnya; dan
6. lingkungan:
ruang kelas, studio, perpustakaan, aula, teman, kebun, pasar, toko, museum,
kantor dan sebagainya (Depdiknas, 2004).
Gerlach
& Elly (1971) menegaskan pada awalnya terdapat jenis sumber belajar
yaitu manusia, bahan, lingkungan, alat dan perlengkapan, serta
aktivitas.
a. Manusia
Manusia
dapat dijadikan sebagai sumber belajar. Peranannya sebagai sumber belajar
dapat dibagi ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama adalah manusia atau orang
yang sudah dipersiapkan khusus sebagai sumber belajar melalui pendidikan yang
khusus pula, seperti guru, konselor, administrator pendidikan, tutor dan
sebagainya. Kelompok Kedua yaitu manusia atau orang yang tidak dipersiapkan
secara khusus untuk menjadi seorang nara sumber akan tetapi
memiliki keahlian yang mempunyai kaitan erat dengan program pembelajaran
yang akan disampaikan, misalnya dokter, penyuluh kesehatan, petani, polisi dan
sebagainya.
b. Bahan
Bahan
yang dimaksud adalah segala sesuatu yang membawa pesan/ informasi untuk
pembelajaran. Pesan itu dikemas dalam bentuk buku paket, video, film,
bola dunia, grafik, CD interaktif dan sebagainya. Kelompok ini biasanya disebut
dengan media pembelajaran. Dalam penggunaannya untuk suatu proses pembelajaran,
bahan dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu bahan yang didesain khusus
untuk pembelajaran, dan bahan/media yang dimanfaatkan untuk memberikan
penjelasan materi pembelajaran yang relevan.
c. Lingkungan
Lingkungan
yang dimaksud adalah lingkungan yang mampu memberikan pengkondisian belajar.
Lingkungan ini juga di bagi dua kelompok yaitu lingkungan yang didesain khusus
untuk pembelajaran, seperti laboratorium, kelas dan sejenisnya. Sedangkan
lingkungan yang dimanfaatkan untuk mendukung keberhasilan penyampaian materi
pembelajaran, diantaranya museum, kebun binatang dan sejenisnya.
d. Alat dan
perlengkapan
Sumber
belajar dalam bentuk alat atau perlengkapan adalah alat dan perlengkapan yang
dimanfaatkan untuk produksi atau menampilkan sumber-sumber belajar lainnya.
Seperti TV untuk membuat program belajar jarak jauh, komputer untuk
membuat pembelajaran berbasis komputer, tape recorder untuk membuat program
pembelajaran audio dalam pelajaran bahasa Inggris, terutama untuk
menyampaikan informasi pembelajaran mengenai listening (mendengarkan),
dan sejenisnya.
e. Aktivitas
Biasanya
aktivitas yang dapat diajdikan sumber belajar adalah aktivitas yang mendukung
pencapaian tujuan pembelajaran yang di dalamnya terdapat perpaduan antara
teknik penyajian dengan sumber belajar lainnya yang memudahkan siswa
belajar. Seperti aktivitas dalam bentuk diskusi, mengamati, belajar
tutorial, dan sejenisnya.
2.2.
Pemilihan Sumber Belajar
Dalam
memilih sumber belajar akan ditentukan juga berdasarkan :
1. Motivasi
2. Kemampuan guru dalam penggunaannya
Program Pengajaran,
3. Kondisi Lingkungan,
4. Karakteristik siswa,
5. Karakteristik sumber
belajar.
Kelima hal tersebut harus menjadi
patokan dalam memilih sumber belajar yang akan dimanfaatkan dalam proses
pembelajaran.
Sudjana
dan Rivai (1989) mengemukakan bahwa memilih sumber belajar harus didasarkan
atas kriteria tertentu yang secara umum terdiri dari kriteria umum dan kriteria
berdasarkan tujuan yang hendak dicapai.
a. Kriteria Umum
Dalam
kriteria umum pemilihan sumber belajar harus memperhatikan kriteria sebagai
berikut:
1. ekonomis: tidak harus terpatok pada harga yang
mahal;
2. praktis: tidak memerlukan pengelolaan yang
rumit, sulit dan langka;
3. mudah: dekat dan tersedia di sekitar
lingkungan kita;
4. fleksibel: dapat dimanfaatkan untuk berbagai
tujuan instruksional dan;
5. sesuai dengan tujuan: mendukung proses dan
pencapaian tujuan belajar, dapat membangkitkan motivasi dan minat belajar siswa
(Depdiknas, 2004).
Yang dimaksud
dengan :
a. Ekonomis
(murah), ekonomis tidak berarti harganya selalu harus rendah. Bisa saja dana
pengadaan sumber belajar itu cukup tinggi, tetapi pemanfaatannya dalam jangka
panjang terhitung murah.
b. Praktis dan
sederhana, artinya tidak memerlukan pelayanan dan pengadaan sampingan yang yang
sulit dan langka.
c. Mudah
diperoleh, sumber belajar itu dekat, tidak perlu diadakan atau dibeli di toko
atau pabrik, misalnya lingkungan sekitar.
d. Fleksibel,
bisa dimanfaatkan untuk berbagai tujuan pembelajaran dan tidak dipengaruhi oleh
faktor luar, misalnya kaset video.
e.
Komponen-komponennya sesuai dengan tujuan.
b.
Kriteria Berdasarkan Tujuan
1.
Sumber belajar untuk memotivasi,
2.
Sumber belajar untuk tujuan pembelajaran,
3.
Sumber belajar untuk penelitian,
4.
Sumber belajar untuk memecahkan masalah,
5.
Sumber belajar untuk presentasi.
2.3
Persyaratan dalam Memanfaatkan Sumber Belajar
Ada beberapa persyaratan yang perlu diketahui oleh guru dalam memanfaatkan
berbagai sumber belajar, yaitu sebagai berikut :
a.
Tujuan pembelajaran hendaknya dijadikan pedoman dalam memilih
sumber belajar yang sahih.
b.
Pokok-pokok bahasan yang menjelaskan analisis materi yang akan disampaikan
kepada siswa.
c. Pemilihan strategi, metode yang sesuai dengan
sumber belajar.
d.
Sumber-sumber belajar yang dirancang berupa media instruksional dan bahan
tertulis yang tidak dirancang.
e. Pengaturan waktu sesuai dengan luasnya materi.
f. Evaluasi yang akan digunakan
2.4.
Pengertian Media Intruksional Edukatif
Kata media berasal dari kata Latin,
merupakan bentuk jamak dari kata medium. Secara harfiah kata tersebut
mempunyai arti perantara atau pengantar. Banyak pakar tentang media
pembelajaran yang memberikan batasan tentang pengertian media. Menurut Association
of Education and Communication Technology (AECT) yang dikutip oleh Rohani (1997
: 2) media adalah segala bentuk yang dipergunakan untuk proses penyaluran
informasi. Sedangkan pengertian media menurut Djamarah (1995 : 136) media
adalah alat bantu apa saja yang dapat dijadikan sebagai penyalur pesan guna
mencapai tujuan pembelajaran”. Sedangkan National Education Association (NEA)
dalam Sidharta dan Winduono (2009) mengartikan media sebagai segala benda yang
dapat dimanipulasi, dilihat, didengar, dibaca atau dibicarakan beserta
instrumen yang digunakan untuk kegiatan tersebut.
Selanjutnya ditegaskan oleh Purnamawati
dan Eldarni (2001 : 4) dalam http://www.media grafika.com yaitu : “media adalah
segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke
penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat siswa
sedemikian rupa sehingga terjadi proses belajar”. Selain itu menurut Bovee
dalam http://www.ialf.edu/kipbipa/papers/OudaTidaEna.doc bahwa media
adalah sebuah alat yang mempunyai fungsi menyampaikan pesan.
Sidharta dan Winduono (2009) juga
menjelaskan bahwa media dalam arti umum diartikan sebagai sarana yang disebut
channel, karena pada hakekatnya media telah memperluas atau memperpanjang
kemampuan manusia untuk merasakan, mendengar dan melihat batas-batas jarak,
ruang dan waktu tertentu. Dengan bantuan media batas-batas itu hampir menjadi
tidak ada.
Sedangkan kata intruksional berasal
dari kata instruction, yang artinya pembelajaran. Heinich et al
(1993) mengartikan media sebagai alat saluran komunikasi, yaitu perantara
sumber pesan (a source) dengan penerima pesan (a receiver). Dalam
hubungannya dengan pembelajaran, Heinich mengemukakan bahwa suatu media bisa
dipertimbangkan sebagai media pembelajaran jika membawa pesan-pesan (messages)
dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran.
Media pembelajaran didefinisikan
sebagai setiap alat, baik hardware maupun software yang
dipergunakan sebagai media komunikasi dan yang tujuannya untuk meningkatkan
efektivitas proses belajar mengajar (Sidharta dan Winduono, 2009).
Media pembelajaran selalu terdiri atas
dua unsur penting (Rumumpuk dalam Sidharta dan Winduono, 2009), yaitu pesan
atau bahan pembelajaran yang akan disampaikan, dengan istilah lain disebut
perangkat lunak (software), dan (2) perangkat keras (hardware)
yang berfungsi sebagai alat belajar dan alat bantu belajar.
Makna edukatif menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah bersifat mendidik atau berkenaan dengan
pendidikan. Sedangkan pendidikan merupakan proses perubahan sikap dan tata laku
seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya
pengajaran dan pelatihan. Jadi media pembelajaran edukatif adalah segala
sesuatu yang dapat merangsang siswa untuk belajar sehingga terjadi perubahan
tingkah laku pada diri siswa sesuai tujuan menuju suatu pendewasaan.
Perkembangan media pembelajaran
mengikuti perkembangan teknologi pendidikan. Berkembangnya paradigma atau
kerangka berpikir dalam teknologi pendidikan mempengaruhi perkembangan media
pembelajaran. Berikut uraian beberapa paradigma tersebut.
a. Paradigma
pertama, media pembelajaran sama dengan alat peraga audio visual yang dipakai
oleh instruktur untuk melaksanakan tugasnya.
b. Paradigma kedua, media dipandang sebagai
sesuatu yang dikembangkan secara sistemik serta berpegang kepada kaidah
komunikasi.
c. Paradigma
ketiga, media dipandang sebagai bagian integral dalam sistem pembelajaran dan
karena itu menghendaki adanya perubahan pada komponen-komponen lain dalam
proses pembelajaran.
d. Paradigma
keempat, media pembelajaran lebih dipandang sebagai salah satu sumber yang
dengan sengaja dan bertujuan dikembangkan dan atau dimanfaatkan untuk keperluan
belajar (Susilana dan Riyana, 2009).
Kita sekarang berada dalam suatu era
teknologi informasi yang ditandai dengan tersedianya informasi yang makin
banyak dan bervariasi. Tersebarnya informasi yang semakin meluas dan seketika
serta tersaji dalam berbagai bentuk dalam waktu yang singkat telah mempengaruhi
seluruh aspek kehidupan. Dengan demikian, media dalam kegiatan pembelajaran,
tidak hanya berfungsi sebagai alat bantu guru, melainkan sebagai pembawa
informasi atau pesan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Analisis Kebutuhan Media Instruksional
Media merupakan salah satu komponen
utama dalam pembelajaran. Oleh karena itu, sudah seharusnya dalam proses
pembelajaran guru menggunakan media. Karena media sangat dibutuhkan, maka
proses pemilihan media menjadi penting. Hal ini disebabkan kedudukan media yang
strategis untuk keberhasilan pembelajaran.
a. Dasar Pertimbangan Pemilihan Media
Dalam pemilihan media, didasarkan pada
dua alasan, yaitu:
1) alasan teoretis
2) alasan praktis.
1) Alasan Teoretis
Alasan pokok pemilihan media dalam
pembelajaran, karena didasari atas konsep pembelajaran sebagai sebuah sistem
yang di dalamnya terdapat suatu totalitas yang terdiri atas sejumlah komponen
yang saling berkaitan untuk mencapai tujuan. Misalnya prosedur pengembangan
desain instruksional diawali dengan perumusan tujuan instruksional, kemudian
dilanjutkan dengan penentuan materi pembelajaran serta menentukan strategi
pembelajaran yang tepat. Upaya untuk mewujudkan tujuan pembelajaran ditunjang
oleh media yang sesuai dengan materi, strategi, dan karakteristik siswa. Untuk
mengetahui hasil belajar, maka guru menentukan evaluasi.
Mekanisme tersebut jelas menunjukkan
pendekatan sistem dalam pembelajaran dengan pengertian bahwa setiap komponen
dalam pembelajaran saling berkaitan, saling berinteraksi, saling berhubungan
dan saling ketergantungan. Uraian tersebut juga menggambarkan bagaimana
kedudukan media dalam pembelajaran yang tidak dapat dipisahkan dari keseluruhan
sistem pembelajaran. Penggunaan media akan meningkatkan kebermaknaan (meaningfull
learning) hasil belajar. Dengan demikian pemilihan media menjadi penting
artinya dan hal ini menjadi alasan teoretis mendasar dalam pemilihan media.
2) Alasan Praktis
Alasan praktis berkaitan dengan
pertimbangan-pertimbangan dan alasan si pengguna seperti guru, dosen,
instruktur dalam menggunakan media dalam pembelajaran. Terdapat beberapa
penyebab orang memilih media, antara lain dijelaskan oleh Sadiman dalam
Susilana (2009) sebagai berikut.
a.
Demonstration.
Dalam hal ini media dapat di gunakan
sebagai alat untuk mendemonstrasikan sebuah konsep, alat, objek, kegunaan, cara
mengoperasikan dan lain-lain. Media berfungsi sebagai alat peraga pembelajaran.
b.
Familiarity
Pengguna media pembelajaran memiliki
alasan pribadi mengapa ia menggunakan media, yaitu karena sudah terbiasa
menggunakan media tersebut, merasa sudah menguasai media tersebut, jika
menggunakan media lain belum tentu bisa dan untuk mempelajarinya membutuhkan
waktu, tenaga dan biaya, sehingga merasa terus menerus ia menggunakan media
yang sama.
c.
Clarity
Alasan ketiga ini mengapa guru
menggunakan media adalah untuk lebih memperjelas pesan pembelajaran dan
memberikan penjelasan yang lebih kongkrit.
d.
Active learning
Media dapat berbuat lebih dari yang bisa
dilakukan oleh guru. Salah satu aspek yang harus diupayakan oleh guru dalam
pembelajaran adalah siswa harus berperan secara aktif baik secara fisik, mental
dan emosional.
b. Kriteria Pemilihan Media
Dalam kriteria pemilihan media terbagi
atas kriteria umum dan kriteria khusus.
1)
Kriteria Umum Pemilihan Media
(a) Kesesuaian dengan tujuan (instructional goals).
Misalnya dalam
KTSP kriteria pemilihan media didasarkan atas SK, KD, dan indikator.
(b) Kesesuaian dengan materi
pembelajaran (instructional Content).
Media
disesuaikan dengan bahan apa yang akan diajarkan dan kedalamanya.
(c)
Kesesuaian dengan karakteristik siswa.
Pemilihan
media harus melihat kondisi siswa secara fisik terutama keberfungsian alat
indra yang dimikikinya. Selain itu, aspek kemampuan awal siswa, budaya, maupun
kebiasaan siswa harus diperhatikan.
(d) Kesesuaian dengan teori.
Pemilihan media
didasarkan atas teori yang diangkat dari penelitian sehingga teruji
validitasnya.
(e) Kesesuaian dengan gaya belajar
siswa.
Kriteria ini
didasarkan atas kondisi psikologis siswa, bahwa siswa belajar dipengaruhi
pula oleh gaya belajar siswa. De Potter (1999) mengemukakan bahwa
terdapat tiga gaya belajar siswa, yaitu tipe visual, auditorial, dan
kinestetik.
(f) Kesesuaian dengan kondisi
lingkungan, fasilitas, dan waktu yang tersedia.
Bagaimanapun
bagusnya sebuah media, apabila tidak didukung oleh fasilitas dan waktu yang
tersedia, maka kurang efektif.
2) Kriteria Khusus Pemilihan Media
Beberapa ahli mengemukakan kriteria
khusus pemilihan media, namun yang dikemukakan di sini adalah yang diambil dari
akronim ACTION (Sidarta dan Winduono, 2009), yaitu acces, cost, technology,
interactivity, organization, dan novelty.
Acces. Kemudahan akses
menjadi kriteria pertama memilih media. Apakah media yang kita perlukan itu
tersedia, mudah, dan dapat dimanfaatkan oleh siswa? Hal ini juga terkait dengan
aspek kebijakan, apakah siswa diijinkan mengaksesnya atau tidak. Cost.
Media yang efektif tidak selalu mahal. Guru yang kreatif harus dapat
memanfaatkan objek-objek sebagai media yang murah namun efektif. Technology.
Media yang kita pilih harus tersedia teknologinya dan mudah menggunakannya.
Misalnya ada listriknya, cukup voltasenya atau sesuai tidak dengan
pembelajaran. Interactivity. Media yang baik adalah yang dapat
menunculkan komunikasi dua arah atau interaksi. Organization. Media yang
kita pilih apakah ada dukungan organisasi, misalnya pimpinan sekolah mendukung,
bagaimana pengorganisasiannya, apakah ada pusat sumber belajar. Novelty. Kebaruan
dari media harus jadi kriteria. Siswa biasanya tertarik pada hal yang baru
misalnya internet.
Sudjana (1999) mengemukakan bahwa dalam
pemilihan media pembelajaran harus dikaitkan dengan:
(1) kompetensi dasar;
(2) strategi pembelajaran
(3) sistem
evaluasi yang digunakan.
Sedangkan faktor yang perlu
diperhatikan: 1) objektivitas; 2) program pengajaran; 3) sasaran program
(siswa); 4) situasi dan kondisi; 5) kualitas teknis; 6) keefektifan dan
efesiensi penggunaan.
Kriteria pemilihan mencakup:
1). Topik menarik minat siswa. 2). Materi dalam media
penting bagi siswa. 3). Relevan dengan kurikulum yang berlaku.
4). Apakah materinya autentik dan aktual. 5). Apakah
fakta atau konsepnya benar. 6). Format sistematis dan logis.
7). Objektif orientasi kebutuhan siswa. 8). Narasi,
gambar, efek, warna dan sebagainya memenuhi syarat. 9). Bahasa,
simbol dan ilustrasi cukup komunikatif. 10). Sudah teruji daya dukungnya.
c. Prosedur Pemilihan Media
Menurut Gagne dalam Trimo (2006) ada
beberapa prosedur yang perlu dipertimbangkan oleh seorang guru dalam memilih
media intruksional yang tepat:
1). Pilih dan
tentukan tujuan intruksional dengan cermat dan rumuskan ia dalam bentuk prilaku
yang diharapkan dari siswa.
2). Susunlah
urutan tujuan-tujuan itu sedemikian rupa sehingga komponen yang diperlukan
dapat ditetapkan sebelum melangkah pada materi pelajaran yang lebih kompleks.
3). Identifikasi
setiap tujuan tadi dengan jenis materi pelajaran yang dipresentasikan.
4). Buatlah daftar urutan kegiatan pengajaran yang akan
memcerminkan kondisi-kondisi umum yang diperlukan bagi metode pengajaran yang
akan dijalankan.
5). Identifikasi
setiap kegiatan intruksional tadi dengan harkat stimulus yang diperlukan.
6). Identifikasi
dan tentukan secara tentatif media yang paling optimal dapat memberikan
stimulus bagi usaha untuk mencapai hasil pengajaran yang efektif.
7). Tentukan
urutan media yang telah dipilih itu serta waktu penggunaannya sehingga sesuai
dengan jumlah jam pelajaran yang tersedia untuk penyajian materi pelajaran yang
bersangkutan.
8). Tulislah spesifikasi media intruksional tersebut
disertai irutan waktu pemakaiannya, sehingga para ahli media intruksional dapat
memilih, menyiapkan dan mengadakan program penggunaannya sesuai dengan jadwal
waktu pengajarannya
Menurut Gerlach dan Ely (dalam Arsyad,
2002:11) ciri media pendidikan yang layak digunakan dalam pembelajaran adalah
sebagai berikut :
1. Fiksatif (fixative
property)
Media pembelajaran
mempunyai kemampuan untuk merekam, menyimpan, melestarikan, dan merekonstruksi
suatu peristiwa/objek.
2. Manipulatif (manipulatif
property)
Kejadian yang memakan
waktu berhari-hari dapat disajikan kepada siswa dalam waktu dua atau tiga menit
dengan teknik pengambilan gambar time-lapse recording.
3. Distributif (distributive
property)
Memungkinkan berbagai objek ditransportasikan melalui suatu tampilan yang
terintegrasi dan secara bersamaan objek dapat menggambarkan kondisi yang sama
pada siswa dengan stimulus pengalaman yang relatif sama tentang kejadian itu.
3.2 Peranan
Media Instruksional dalam Pencapaian Tujuan Pembelajaran
Menurut Kemp and Dayton (1985)
peranan media instruksional dalam pembelajaran
antara lain:
(a). penyampaian pesan pembelajaran dapat
lebih tersandar.
(b). Pembelajaran dapat lebih menarik.
(c). Pembelajaran lebih interaktif
dengan menerapkan teori belajar.
(d). Waktu pelaksanaan pembelajaran
dapat diperpendek.
(e). Kualitas pembelajaran dapat ditingkatkan.
(g). Proses pembelajaran dapat berlangsung kapanpun dan
dimanapun diperlukan.
(h). Sikap positif siswa terhadap materi pembelajaran
serta proses pembelajaran dapat ditingkatkan.
(i).
Peran guru berubah kearah yang positif.
Media pembelajaran memiliki beberapa fungsi di antaranya
(Sidharta dan Winduono, 2009) adalah:
(a) memperjelas dan
memperkaya/melengkapi informasi yang diberikan secara verbal
(b) meningkatkan
motivasi dan perhatian siswa untuk belajar.
(c) meningkatkan efektivitas dan efisiensi penyampaian
informasi.
(d) menambah variasi
penyajian materi.
(e) meningkatkan
semangat, gairah, mencegah kebosanan siswa untuk belajar.
(f) kemudahan materi
untuk dicerna terhadap materi yang dipelajarinya.
(g) memberikan
pengalaman yang lebih konkrit bagi hal yang mungkin abstrak.
(h) meningkatkan
keingintahuan (curiousty) siswa.
(i) memberikan
stimulus dan mendorong respon siswa.
Fungsi media, khususnya media visual
dikemukakan oleh Levie dan Lentz, seperti yang dikutip oleh Arsyad (2002) bahwa
media tersebut memiliki empat fungsi yaitu: fungsi atensi, afektif, kognitif,
dan fungsi kompensatoris. Dalam fungsi atensi, media visual dapat menarik dan
mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran. Fungsi
afektif dari media visual dapat diamati dari tingkat “kenikmatan” siswa ketika
belajar (membaca) teks bergambar. Dalam hal ini gambar atau simbol visual dapat
menggugah emosi dan sikap siswa. Fungsi kompensatoris media pembelajaran
adalah memberikan konteks kepada siswa yang kemampuannya lemah dalam
mengorganisasikan dan mengingat kembali informasi dalam teks. Dengan kata lain
bahwa media pembelajaran ini berfungsi untuk mengakomodasi siswa yang
lemah dan lambat dalam menerima dan memahami isi pelajaran yang disajikan dalam
bentuk teks (disampaikan secara verbal).
Sidharta dan Winduono (2009), juga
mengemukakan tentang manfaat media pembelajaran adalah sebagai berikut :
(a) media pembelajaran dapat mengatasi berbagai keterbatasan
yang dimiliki siswa.
(b) dapat mengatasi perbedaan pengalaman siswa karena
faktor perbedaan latar belakang ekonomi keluarga.
(c) media pembelajaran dapat mengatasi
ruang kelas
(d) dapat menampilkan obyek yang terlalu besar dengan
menggunakan model, gambar, film
(e) dapat menampilkan obyek yang terlalu kecil dengan
menggunakan model, mikroskop, lup, komputer, gambar.
(f) media dapat
mengatasi gerakan yang terlalu lambat atau terlalu cepat dengan model slide
atau animasi komputer.
(g) media
pembelajaran dapat mengatasi hal-hal yang terlalu kompleks dan rumit untuk
diamati, seperti arus listrik, sistem aliran darah dengan menggunakan film,
slide, komputer
(h) media
pembelajaran dapat mengatasi hal-hal seperti peristiwa alam (gerhana, mekarnya
bunga, dll) dengan menggunakan film, film slie, video, gambar, foto dan
komputer.
(i) media
memungkinkan terjadinya interaksi langsung antara siswa dengan lingkungan dan
masyarakat atau keadaan alamiah, dengan meninjau kebun binatang, taman
nasional, pasar, koperasi, cagar alam dan sebagainya yang sesuai dengan materi
pembelajaran.
(j) media menghasilkan keseragaman pengamatan siswa
terhadap sesuatu dengan menggunakan film, slide, dan mikroskop.
(k) media dapat menanamkan konsep dasar yang konkrit dan
realistis dengan menggunakan gambar, film dan model.
(l) media dapat
mengembangkan keinginan dan minat belajar yang baru serta membangkitkan motivasi
dan merangsang kegiatan belajar siswa.
Media pembelajaran merupakan bagian
integral dari proses belajar mengajar. Oleh karena itu dalam pemilihan media
yang akan digunakan seorang pengajar harus memperlihatkan semua komponen
perencanaan pembelajaran sebagai berikut (Sidharta dan Winduono 2009):
(a) tujuan, media pembelajaran hendaknya sesuai dan
menunjang pencapaian tujuan pembelajaran
(b) materi pembelajaran, materi yang dipilih harus sesuai
dengan materi/isi pembelajaran dalam arti relevan tidak out of date.
(c)
metode/pendekatan, pemilihan media pembelajaran perlu disesuaikan dengan
metode/pendekatan pembelajaran yang dipilih.
(d) evaluasi, media yang dipilih selain selain mengacu
pada tujuan, terkait juga pada evaluasi yang digunakan.
(e) siswa,
pemilihan media perlu disesuaikan dengan perkembangan intelektual siswa
BAB IV
KESIMPULAN
Dari makalah ini dapat disimpulkan bahwa :
1. Sumber belajar adalah semua sumber baik berupa data,
orang dan wujud tertentu yang dapat digunakan oleh peserta didik dalam belajar,
baik secara terpisah maupun secara terkombinasi sehingga mempermudah peserta
didik dalam mencapai tujuan belajar atau kompetensi tertentu.
2. Media pembelajaran edukatif adalah setiap alat, baik hardware
maupun software yang bersifat mendidik yang dipergunakan sebagai media
komunikasi yang bertujuan meningkatkan efektifitas proses belajar mengajar.
3. Dalam menganalisa kebutuhan media instruksional harus memperhatikan
kompetensi dasar; strategi pembelajaran, sistem evaluasi yang digunakan.
4. , Peranan media
instruksional dalam pembelajaran antara lain: penyampaian pesan pembelajaran
dapat lebih tersandar. pembelajaran dapat
lebih menarik, pembelajaran lebih interaktif dengan menerapkan teori belajar, waktu
pelaksanaan pembelajaran dapat diperpendek, kualitas pembelajaran dapat
ditingkatkan, proses pembelajaran dapat berlangsung kapanpun dan dimanapun
diperlukan (sikap positif siswa terhadap materi pembelajaran), proses
pembelajaran dapat ditingkatkan,
serta peran guru berubah kearah yang positif.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, Rohani.
1997. Media Intruksional Edukatif. Jakarta : Rineka Cipta.
Arsyad, A.
2002. Media
Pembelajaran, edisi 1. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Depdiknas.
2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta.
Depdiknas.
2004. Pedoman Merancang Sumber Belajar. Jakarta.
DePorter, B dan Mike Hernacki. 1992. Quantum Learning:
Unleashing The Genius in You. New York: Dell Publishing (terjemahan:
Alwiyah Abdurahman. 1999. Quantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman dan
Menyenangkan. Bandung: Kaifa).
Heinich, R., Molenda, M., & Russel, J.D. 1993. Instructional
Media and the New Technologies of Instruction, 4th ed.
New York: Macmillan Publishing Company.
Kemp and Dayton (1985) Audio-visual materials;
Audio-visual equipment. 5th edition. New York: Harper & Raw.
Sidharta, Arif dan Yamin Winduono. 2009. Media
Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan
Pendidik dan Tenaga Kependidikan Ilmu Pengetahuan Alam (PPPPTK IPA) untuk
Program Bermutu. Jakarta.
Syaiful Bahri Djamarah,(1995).
Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Susilana. 2009.
Media Pembelajaran. Bandung: Wacana Prima.
Trimo, Soejono.
2006. Pengembangan Pendidikan. Bandung: Remaja Karya.
Yusuf, Pawit M. 2003. Komunikasi
Pendidikan dan Komunikasi Instruksional.
Bandung: Rosdakarya.
http://mahmudah6906.blogspot.com/2011/12/sumber-belajar-dalam-konteks-media.html
Semangat bu Niken! Jazakillah infonya... :)
BalasHapusSama-sama, bu... Tetap semangat!
BalasHapus